Ahlan Wa Sahlan Wa Marhaban Bikum

Ahlan Wa Sahlan Wa Marhaban Bikum

Wednesday, June 30, 2010

Cerita Gula Dan Sirap


Tiada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirap.

Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia
sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir. Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan 'kopi gula pasir'. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adunan kuih dan roti. Gula pasir merasa kalau dirinya hanya diperlukan, tapi kemudian dilupakan.

Ia cuma disebut manakala manusia memerlukannya. Setelah itu, tiada penghargaan sedikit pun. Tiada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya dan peranannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis.

Berbeza sekali dengan sirap. Sirap walaupun hanya bertindak sebagai pewarna tetapi bila ianya sudah dicampur gula, orang tetap memanggil itu air sirap dan bukannya air gula sirap. Nama gula benar-benar tersisih.

Maka, posisi apakah diri kita? Gula atau sirap? Kalau pun kita di bahagian gula... kita akur saja kerana hidup biarlah berbakti walaupun tidak dipuji....benarkah?

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sahabat2 Setia

izryn's blog Copyright © 2010 Premium Wordpress Themes | Website Templates | Blogger Template is Designed by Lasantha.